Industri galangan kapal di Indonesia

0
62
Shipyard industry in Indonesia
Shipyard industry in Indonesia

Galangan kapal merupakan salah satu pilar industri maritim suatu negara terutama untuk Indonesia karena Indonesia memiliki wilayah lautan yang sangat luas. Namun ternyata Market Share Galangan kapal Indonesia dibandingkan dengan industri kapal internasional hanya 0,5% (OECD, 2009). Prosentase market share ini erat kaitannya dengan analisa daya saing industri maritim nasional terhadap industri maritim regional. Daya saing industri maritim nasional memiliki banyak sektor yang terkait dan terlibat. Peta posisi industri maritim nasional dapat dimonitor dari perkembangan analisa bisnis regional maupun internasional. Titik tolak pemikiran terkait daya saing ini adalah alasan logis untuk mengembangkan Industri Pembangunan Kapal Baru di Indonesia.

Industri pembangunan kapal baru memiliki impact bagi industri hulu. Industri komponen dan material yang merupakan supplier utama bagi Industri pembangunan kapal baru harus bisa bersaing memperebutkan pangsa pasar ini. Sesuai data awal, Material dan Komponen Kapal Baru Indonesia, hingga 70% nya masih impor (https://kemenperin.go.id/artikel/7214/70-Persen-Komponen-Kapal-Impor).

Dari hampir 30% Komponen dan Material yang diproduksi di Indonesia, pada kenyataannya Raw Material-nya sebagian besar masih impor. Lemahnya Industri Material dan Komponen di Indonesia disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya adalah fleksibilitas pembiayaan, kurangnya dukungan dari industri hulu sebagai pemasok bahan mentah, Teknologi Material dan Teknologi Proses yang belum sepenuhnya dikuasai, Regulasi yang belum sepenuhnya mendukung, Tools dan Software terkait Industri Komponen dan Material yang belum fixed dan keterbukaan Informasi terkait Data yang dibutuhkan untuk analisa. Salah satu yang menjadi kendala juga adalah, Supply Chain Management masih murni dikendalikan pasar. Dan tidak kalah pentingnya adalah perspektif yang seharusnya seragam dalam melihat tantangan dan peluang industri perkapalan.

Industri galangan kapal di Indonesia
Industri galangan kapal di Indonesia                                                                                                                    Source : https://dok-sby.id

Meskipun telah terjadi peningkatan jumlah kapal sejak diterbitkan INPRES No 5 tahun 2005 tentang asas sabotase, namun tingkat produktifitas industri/galangan kapal dinilai masih rendah. Industri pelayaran sendiri memiliki beberapa strategi terkait kewajiban bendera, salah satunya yaitu dengan membeli kapal bekas dari luar negeri dan dikonversi di dalam negeri. Alasan lainnya yaitu keterbatasan kapasitas industri/galangan kapal nasional. Di sisi lain, galangan kapal harus terus beroperasi, dampaknya adalah kecenderungan galangan kapal untuk menerima atau mengikuti tender pembangunan kapal, yang pada dasarnya kapal tersebut tidak spesifik tipenya sesuai karakteristik galangan. Pembangunan kapal yang memiliki kecenderungan berbeda-beda tipe ini, membutuhkan energi tersendiri bagi galangan kapal untuk beradaptasi dalam proses pembangunannya.

Strategi pemerintah adalah berupaya untuk membuat standarisasi tipe kapal. Pada tahap awal yang distandarisasi masih kapal-kapal tipe perintis. Namun melihat antusiasme stake holder industri maritime nasional, standarisasi kapal ini memiliki kecenderungan juga akan menjamah tipe-tipe kapal lain, seperti tanker, bulk carrier, container ship dan passenger ship. Standarisasi tipe kapal ini akan menyangkut ukuran utama dan jenis muatan.

Peningkatan kapasitas dan produktifitas galangan kapal nasional dapat dicapai salah satunya adalah dengan revitalisasi fasilitas dan peralatan galangan kapal. Revitalisasi ini melingkupi aplikasi fasilitas, sarana, prasarana dan peralatan dengan basis teknologi maju (advanced technology). Harapannya adalah, walaupun lahan dan lokasi suatu galangan kapal tetap, tetapi dengan optimalisasi proses produksi kapal dengan aplikasi peralatan yang terbaru dan dengan teknologi terkini, dapat mempercepat proses pembangunan kapal. Percepatan ini dapat dimungkinkan dengan kualitas yang sesuai dan meminimalkan proses re-work.

Inovasi teknologi rancang bangun dan inovasi metode pembangunan juga memiliki pengaruh vital. Kemudahan dalam proses pembangunan kapal dapat dideteksi sejak dalam proses rancang bangun. Sehingga factor kesulitan dalam pembangunan kapal semakin sedikit. Antisipasi terhadap tingkat kesulitan dalam pembangunan kapal yang dapat dideteksi sejak awal, akan membuat jajaran operator/pelaksana pembangunan kapal lebih siap. Asumsi yang dapat dipakai adalah, bahwa kesulitan tidak dapat dihilangkan, hanya dapat diminimalkan, sehingga tidak ada kesulitan yang terlalu sulit untuk diselesaikan.

Industri Galangan Kapal terutama pada Pembangunan Kapal Baru terbatasi oleh waktu, mulai Start sampai dengan Delivery, sehingga kepastian Supply dan Arrival Material dan Komponen merupakan salah satu faktor sukses tidaknya Pembangunan Kapal Baru. Kendala lain adalah proses produksi pembangunan kapal baru dimana waktu produksi lama dan biaya tinggi. Factorfaktor di atas merupakan kendala umum yang dihadapi oleh Galangan Kapal yang mengkhususkan dalam pembangunan Kapal Baru.

Pembangunan kapal baru adalah termasuk kategori “project based oriented industry”, yang memiliki pengertian bahwa semua Kapal yang dibangun adalah berdasar pesanan (design to order and order oriented). Masing-masing Kapal yang dibangun membutuhkan Strategi Pembangunan sendiri-sendiri (Widjaya, S, 1996). Integrasi Pembangunan Kapal Baru dilakukan internal, antar manajemen galangan kapal (planning, scheduling dan production control) dengan faktor produksi lain (material, manpower/labour, fasilitas, modal dan informasi). Transformasi Planning dalam sistim produksi memerlukan building strategy yang berbeda, sesuai karakteristik tiap-tiap Galangan (Storch, 1995).

Peluang pengadaan armada kapal semakin membesar. Sesuai kajian Ditjen Perhubungan Laut 2006, dibutuhkan 2142 kapal. Di mana 432 unit adalah kapal baru. Dan 1710 unit adalah kapal bekas. Tipe kapal yang dibutuhkan yaitu general cargo, container, bulk carrier, barge, tug boat, tanker, passanger dan ro-ro. Dimana pangsa pasar domestic 54% – 75% dan ekspor/impor 2% – 20%. Kajian lain oleh INSA (Indonesia National Shipowner Association) pada majalah Global Energi, Juni 2014, terjadi kenaikan 108% armada nasional menjadi 6563 kapal, setara 15,4 Miliar US Dolar.

Karakteristik Galangan Kapal merupakan internal faktor, yang terdiri dari : kapasitas, produktifitas, kapabilitas, standard, pengalaman, layout, dan preferensi. External Factor dipahami sebagai spesifikasi teknis pada kontrak (customer requirement). Pada tahapan Process, Integrasi planning, scheduling dan production control. Internal-External Factor ini menjadi Matrix penentu dalam penyusunan build strategy pembangunan kapal baru sebagai output. Build strategy ini memiliki basis pada quality, cost, delivery dan HSE (QCD HSE).

Strategi pembangunan kapal ditinjau dari Ilmu Manajemen Strategi, dibagi dalam 3 level (David; 1995) atau 4 level (Hunger and Wheelen; 1995). Di dalamnya yaitu : Strategi Korporasi, Strategi Bisnis atau Fungsional, dan Strategi Operasional atau Tactical. Tiap Level memiliki sifat, tujuan, input, proses dan output yang berbeda. Strategi Operasional atau Tactical memiliki karakteristik rutin, digunakan level manager ke bawah, untuk menjamin kelancaran proses, mempermudah proses dan mempercepat waktu penyelesaian pekerjaan, pada rentang standar kualitas, di mana parameter pembangunan ditentukan di awal proses, dengan asumsi jika pekerjaan lebih cepat, lebih lancar dan lebih mudah, maka parameter lain dapat ditekan tidak melebihi batas.

Read more : Fasilitas Dan Sarana Pada Galangan Untuk Reparasi Kapal; Teori Desain Kapal; Komponen biaya pada reparasi kapalAnalisa Biaya Reparasi Kapal

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.