Jenis dan fungsi mooring di kapal

Jenis dan fungsi mooring di kapal
Advertisements

Sistem tambat / mooring system pada dasarnya berfungsi untuk mengamankan posisi kapal agar tetap pada posisi yang telah ditentukan seperti pada posisi di waktu awal. Secara umum, mooring system yang digunakan untuk FSO/FPSO adalah sebagai berikut :

1. Spread Mooring

Pada sistem ini tidak memungkinkan bagi kapal untuk bergerak / berputar guna mencapai posisi dimana efek –efek lingkungan semisal angin, arus dan gelombang relatif kecil. Namun hal ini akan mengakibatkan beban lingkungan terhadap kapal menjadi semakin besar, yang dapat mengakibatkan bertambahnya jumlah moooring lines dan atau line tensionnya. Pada sistem ini digunakan satu set anchor legs dan mooring lines yang biasanya terletak pada posisi bow dan stern kapal.

spread mooring

Spread mooring dapat diterapkan pada setiap tipe kapal, namun dengan tetap memperhatikan fasilitas produksi di atas kapal.Pada system ini, peralatan offloading biasanya terletak di bow atau stern kapal, atau dengan menggunakan buoy yang didedikasikan khusus untuk sarana transfer cargo.

2. Turret Mooring

Pada sistem ini kapal dihubungkan dengan turret, yang mana dengan adanya bearing memungkinkan kapal untuk dapat berputar. Dibandingkan dengan spread mooring, pada sistem ini riser dan umbilical yang diakomodasi dapat lebih banyak lagi. Turret mooring dapat berupa external turret atau internal turret.

Turret mooring system

External Turret dapat diletakkan pada posisi bow atau stern kapal, di luar lambung kapal, memungkinkan kapal untuk dapat berputar 360 derajat dan beroperasi pada kondisi cuaca normal maupun extreme. Chain leg “ditanam” di dasar laut dengan anchor atau piles. Biaya pembuatannya lebih murah dibandingkan dengan internal turret dan modifikasi yang dilakukan di kapal tidak terlalu banyak. Selain posisi turret, perbedaan lain dibandingkan dengan internal turret adalah posisi chain table-nya. Pada external turret, chain table terletak di atas water level, sedangkan pada internal turret, chain table terendam di bawah garis air. Pada umumnya sistem ini digunakan di perairan yang tidak terlalu dalam dan pada lapangan yang relatif kecil, coontoh aplikasi di Indonesia adalah FPSO Anoa Natuna. Berbeda dengan internal turret, keunggulan sistem ini adalah dapat terpasang secara permanen maupun tidak (dis-connectable), dapat diaplikasikan pada lapangan dengan kondisi lingkungan yang moderat sampai ekstrim, dan sesuai untuk deepwater. Sistem ini dapat mengakomodasi riser hingga 100 unit dan kedalaman laut hingga 10,000 feet.

3. Tower Mooring

Pada system ini FSO/FPSO dihubungkan ke tower dengan suatu permanent wishbone atau permanent/temporary hawser. Sesuai untuk laut dangkal hingga sedang dengan arus yang cukup kuat. Keuntungannya adalah transfer fluida yang sederhana, dengan menggunakan jumper hoses dari tower ke kapal, akses langsung dari kapal ke tower, modifikasi yang tidak terlalu banyak pada kapal, dan semua mechanical equipment terletak di atas sea level. Selain itu fasilitas-fasilitas lain yang dapat ditempatkan diatas tower deck antara lain articulated yoke, pig receiver, rotating assembly, lifting appliances, supporting surface fasilities.

Tower mooring system

4. Buoy Mooring

Buoy adalah penanda yang diletakkan di laut agar kapal tidak merapat dikarenakan kedalaman laut yang terlalu dangkal. Buoy pada umumnya berwarna terang agar mudah dikenali dari jarak jauh. Mooring buoy dilengkapi dengan beban yang lebih berat untuk diletakkan di dasar laut yang dinamakan sinker. Sinker dihubungkan dengan buoy menggunakan rantai dan shackle. Panjang rantai yang terpasang adalah dua kali kedalaman laut di daerah mooring buoy dipasang. Hal ini bertujuan agar buoy tetap berada di radius yang ditentukan dan apabila pasang surut air laut terjadi, mooring buoy tetap berada di permukaan air. Pada bagian atas buoy terdapat bagian yang menjorok ke atas yang ditujukan sebagai tempat kapal menambatkan tali. Dengan demikian, ada dua kelebihan menggunakan mooring buoy. Pertama, kapal tidak perlu melepaskan jangkar ke dasar laut sehingga ekosistem laut tetap terjaga. Kedua, kapal dapat merapat dengan jarak yang aman sehingga kemungkinan kapal besar untuk membentur dasar laut mengecil.Pada sistem ini sebuah buoy digunakan sebagai mooring point kapal dan untuk offloading fluida. Tujuan utamanya adalah untuk transfer fluida dari daratan atau fasilitas offshore lainnya ke kapal yang sedang ditambatkan. Komponen-komponennya antara lain Buoy Body, sebagai penyedia stabilitas dan buoyancy Komponen mooring dan anchoring, menghubungkan buoy dengan seabed dan Hawser menghubungkan buoy dengan kapal.

Buoy mooring system

Capstan

Sistem penambatan yang ada diantara kapal dengan dermaga membutuhkan sebuah alat untuk menunjang proses penambatan tersebut. Alat tersebut bernama capstan, yang terdapat di weather deck kapal. Capstan adalah sebuah drum dengan posisi vertikal yang digerakkan oleh motor listrik untuk menarik tali tambat. Terdapat tiga macam penyusunan capstan yang umum digunakan.

Capstan di marine

Dalam suatu penyusunan motor, elektrik brake, gear reducer dan capstan head diletakkan semuanya pada weather deck. Penyusunan yang kedua adalah hanya capstan head yang diletakkan pada weather deck, dengan motor electric brake dan gear reducer tergantung dibawah weather deck. Penyusunan ketiga adalah hanya capstan head yang diletakkan di weather deck dengan motor, brake dan gear reducer berada di deck di bawahnya.

Keuntungan penyusunan dengan cara pertama, semua bagian dapat dirangkai oleh pembuat mesin untuk dipasang ditempat yang diinginkan oleh perencana/pembuat kapal. Sedangkan kerugiannya bahwa motor dan brake harus menggunakan konstruksi yang kedap air, dan penempatannya yang susah. Susunan yang kedua mempunyai keuntungan motor dan remnya diluar weather deck. Sehingga merupakan konstruksi yang tahan terhadap air. Susunan yang ketiga mempunyai masalah meluruskan mesin penggerak dengan capstan head dan juga memerlukan instalasi fleksibel kopling yang dapat menyesuaikan ketidaklurusan. Capstan head biasanya berbentuk seperti tong. Gear reducer biasanya terdiri dari roda reduksi dan gulungan. Biasanya lebih banyak digunakan roda reduksi dan gulungan dari pada reduksi yang lain dengan keuntungan effisiensi yang lebih tinggi. Semua bantalan yang ada di reducer harus berbentuk bola atau bertipe roller. Karena diperlukan untuk akurasi pelurusan dari gear gulung.

Related article : Common mooring methods used for marine

Advertisements
About Indonesia Marine Equipment 1197 Articles
INAMEQ is provide all marine product (equipment and sparepart) and news about marine product to help procurement team at shipping industry, ship contractor, port contractor and oil gas company finding competitive price to directly connect with manufacturer and authorized local and international.

Be the first to comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.